Galian Tanah Di Cipayung Meresahkan Warga, Belum Ada Tindakan Aparat

89

depokpro.com, Cipayung – Warga melayangkan protes atas proyek galian C yang berlokasi di jalan Lio Hek dan jalan Cipayung. Pasalnya, proyek itu terlihat sangat bebas beroperasi setiap hari dari pagi hari sampai sore hari.

Padahal galian C mengeruk tanah sedalam belasan meter. Namun terkesan bebas dan tak tersentuh hukum. Bahkan, tak terendus penertiban dari pemerintah Kota Depok, terkesan Pemerintah Kota Depok tutup mata.

Warga sesalkan Satpol PP  Kota Depok dan Dishub Kota Depok hingga kini sepertinya membiarkan kegiatan dirasakan mengganggu masyarakat dan lingkungan.
Warga yang berdomisili di sepanjang Jl Cipayung mengeluhkan,  aktifitas pengangkutan tanah merah yang berlangsung sepanjang hari tanpa pedulikan dampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Kesal banget truk-truk pengangkutan tanah merah lalu lalang dari pagi sampai pagi. Apalagi di tengah hari bolong berdebu bikin sesak napas,” geram warga Kampung Pleret, Kekurahan Cipayungjaya,  Kecamatan Cipayung, Senin (2/7/19).
Selain bikin sesak napas,  hilir-mudik puluhan truk pengangkut tanah merah menimbulkan kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan mulai perempatan Hek Lio sampai perempatan UKI  pitara,  Jecamatan Pancoran Mas hingga Jl Licin menuju lokasu Jembatan Mampang yang amblas.
“Beberapa waktu lalu sempat diprotes warga, tapi protes warga ga tidak tanggapi,  terbukti sampai hari ini tetap saja beroperasi. Kok Satpol PP  dan Dishub  Depok cuek aje, ada apa ya. Giliran orang kecil diobrak-abrik,” ucap yang warga lain.
Tokoh masyarakat Cipayung,  KH Abdul Ghoni SH menyayangkan aktifitas mondar-mandir truk-truk tanah merah di sepanjang Jl Cipayung hingga mengganggu keamanan,  kenyaman,  ketertiban dan ketentraman masyarakat dan lingkungannya.
“Siapa pun yang punya kegiatan usaha itu,  terus terang saya tidak menghalang-halangi,  akan tetapi janganlah kegiatan itu sampai mengganggu masyarakat dan lingkungan,” kata Ghoni.

Kiayi Abdul ghoni warga setempat menduga, galian C tidak mengantongi izin ini terus menjual hasil galian C berupa tanah uruk.

Dilihat dari besarnya galian, hampir mencapai luas tanah hektaran. Tanah yang sudah digali mencapai mencapai ratusan ribu kubik.

“Meski berkali-kali di protes warga, galian C ini tetap ngotot beroperasi,” kata Abdul ghoni ketika di awak media Senin (1/7/2019) di kediamannya.

Sementara itu Camat Cipayung Asep Rahmat mengatakan, kantor Kecamatan Cipayung telah melaporkan keluhan masyarakat secara tertulis ke Satpol PP dan Dishub  PP kota Depok.
“Kami di kecamatan hanya memonitor dan melaporkan, sedangkan untuk tindakan selanjutnya kewenangan Dinas Teknis. Kami sudah melaporkan secara tertulis baik kepada Satpol  PP  maupun Dishub Kota Depok,” kata Asep, ketika di temui awak media Senin, (1/7/2019) di ruang kerjanya.
Asep sependapat dengan usulan KH abdul Ghoni terkait perlunya pengaturan waktu beroperasi dan interval waktu jarak diantara truk.
“Selain itu truk bermuatan tanah harus ditutup terpal,  dan roda truk harus dibersihkan saat meninggalkan lokasi galian agar tidak mengotori jalanan,” papar Asep.
Di tempat terpisah, Kasatpol PP Depok,  N Lienda Ratnanurdianny menegaskan,  perizinan galian tanah merah kewenangannya di Satpol  PP Jawa Barat.” Ijin galian dari provinsi. Klo sudah ada pasti disampaikan… maaf maksud sy kewenangan pemberian ijin galian di prov. Kita sudah mngarahkan untuk diurus ijinnya…,” kata Lienda.
Menanggapi statemen tersebut,  warga Cipayung mempertanyakan, sampai kapan menunggu tindakan Satpol PP jabar bertindak.”Apakah Satpol PP Depok dan Dishub Depok hanya berpangku tangan dan melihat saja ada pelanggaran Perda dan meresahkan masyarakat,” harap warga Cipayung.